TUGAS
PSIKOLOGI SOSIAL II
KELUARGA
(Sikap Keluarga Yang Baik )

Disusun oleh :
R.Tubagus
Rifki P.
Program
Studi Psikologi
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
ISLAM ’45 BEKASI
Tahun
2016
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Sikap Orang Tua Terhadap Anak
di Dalam Keluarga.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang beryukur dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Bekasi, Maret 2016
Penyusun
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang beryukur dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Bekasi, Maret 2016
Penyusun
BAB 1 LATAR BELAKANG
Keluarga
menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial- ekonomi terkecil dalam
masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, merupakan
kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi
interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi (UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10;
Khairuddin 1985; Landis 1989; Day et al. 1995; Gelles 1995; Ember dan Ember
1996; Vosler 1996). Menurut U.S. Bureau of the Census Tahun 2000 keluarga
terdiri atas orang- orang yang hidup
dalam satu rumahtangga (Newman dan Grauerholz 2002; Rosen (Skolnick dan Skolnick 1997). Keluarga merupakan keharusan yang diwajibkan
oleh Agama, salah satunya tertera pada Kitab Suci Al Qur’an:
1. Firman Allah dalam Surat At-Tahrim
Ayat 6:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat - malaikat
yang kasar, yang keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
2. Firman Allah dalam Surat Al-Furqon :
Ayat 74“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah
kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Keluarga
juga seperti diamahkan oleh Undang - Undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga:
Bab II: Bagian Ketiga Pasal 4 Ayat (2), bahwa Pembangunan keluarga
bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman,
tenteram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan
lahir dan kebahagiaan batin.
Menurut
Mattessich dan Hill (Zeitlin 1995), keluarga merupakan suatu kelompok yang berhubungan
kekerabatan, tempat tinggal, atau hubungan emosional yang sangat dekat yang
memperlihatkan
empat hal (yaitu interdepensi intim, memelihara batas-batas yang terseleksi,
mampu untuk
beradaptasi dengan perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu, dan
melakukan tugas-tugas keluarga). Definisi lain menurut Settels (Sussman dan
Steinmetz 1987), keluarga juga diartikan
sebagai suatu abstraksi dari ideologi yang memiliki citra romantis, suatu
proses, sebagai satuan perlakukan intervensi, sebagai suatu jaringan dan
tujuan/peristirahatan akhir. Lebih jauh, Frederick Engels dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property,
and the State, yang mewakili pandangan radikal menjabarkan keluarga mempunyai hubungan antara
struktur sosial-ekonomi masyarakat dengan bentuk dan isi dari keluarga yang
didasarkan pada sistem patriarkhi (Ihromi 1999). Sebagai unit terkecil dalam
masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan dan minum, dan sebagainya. Adapun
tujuan membentuk keluarga adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anggota
keluarganya. Keluarga yang sejahtera diartikan sebagai keluarga yang dibentuk
berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan fisik dan mental
yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki hubungan yang
serasi, selaras, dan seimbang antar anggota keluarga, dan antar keluarga dengan
masyarakat dan lingkungannya (Landis 1989; BKKBN 1992). Burgest dan
Locke (1960) mengemukakan 4 (empat) ciri keluarga yaitu (a) Keluarga adalah
susunan orang - orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan (pertalian antar
suami dan istri), darah (hubungan antara orang tua dan anak) atau adopsi; (b)
Anggota- anggota keluarga
ditandai
dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga.
Tempat kos dan rumah penginapan bisa saja menjadi rumah tangga, tetapi tidak
akan dapat menjadi keluarga, karena anggota - anggotanya tidak dihubungkan oleh
darah, perkawinan atau adopsi, (c)
Keluarga merupakan kesatuan dari orang -orang yang berinteraksi dan
berkomunikasi yang menciptakan peranan - peranan sosial bagi si suami dan
istri, ayah dan ibu, anak laki - laki dan
perempuan, saudara laki-laki dan saudara perempuan; Peranan-peranan tersebut
diperkuat oleh kekuatan tradisi dan sebagian lagi emosional yang menghasilkan
pengalaman; dan (d) Keluarga adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama yang
diperoleh dari kebudayaan umum. Stephens mendefiniskan keluarga sebagai suatu
susunan sosial yang didasarkan pada kontrak perkawinan termasuk dengan
pengenalan hak-
hak dan
tugas orangtua; tempat tinggal suami, istri dan anak-anak; dan kewajiban
ekonomi yang bersifat Reciprocal antara
suami dan istri (Eshelman 1991). Setiap
keluarga mempunyai tujuan yang baik dan mulia misalnya untuk mewujudkan
keluarga yang “Sakinah,Mawwadah, Warrohmah” (untuk orang Muslim). Menurut Ibnu
Qayyim Al Jauziyah :
1.Sakinah adalah ketenangan, kehebatan
(percaya diri) dan kedamaian.
2.Mawaddaha dalah kelembutan tindakan,
kelembutan hati, kecerahan wajah, tawadhuk, kejernihan pikiran, kasih saying,
empati, kesenangan, dan kemesraan.
3.Rahmah adalah kerelaan berkorban,
keikhlasan member, memelihara, kesediaan saling memahami, saling mengerti,
kemauan untuk saling menjaga perasaan, sabar, jauh dari kemarahan, jauh dari
keras hati dan keras kepala, jauh dari kekerasan fisik dan kekerasan mental.
BAB II DASAR TEORI SIKAP
Sikap
merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga
ada yang menganggap bahwa psikologi sosial yang mempelajari sikap (Thomas dan
Zaniecki, 1918, Watson, 1930, dalam Voughn dan Hoog, 2002). Sikap berasal dari
kata latin “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan
atau dapat dianalogikan dengan keadaan gladiator dalam arena laga yang siap
menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Secara harfiah, sikap
dipandang sebagai kesiapan raga yang dapat diamati. Lepas dari makna harfiah semula, pada tahun 1935,
seorang psikolog sosial bernama W.Allport dalam buku Handbook of Social
Pyschology membuat batasan/definis sebagai berikut:
.....a
mental and neural state of readiness, organized through experience, exerting a
directive or dynamic influence upon the indvidual’s response to all object and
situation with which it is related. (G.W. Allport, 1935:810)....
[kesiapan
mental dan saraf, diatur melalui pengalaman, menggunakan pengaruh petunjuk atau
dinamis atau respons individual terhadap semua objek dan situasi yang terkait].
Menurut
Allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung
dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman invidual masing-masing,
mengarahkan dan menentukan respons terhadap berbagai objek dan situasi.
BAB III
PEMBAHASAN
Keluarga
merupakan tempat tinggal bagi seseorang yang memiliki kedekatan emosi di dalam
rumah. Sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan susunan penting di
dalam hidup kita. Kita dibesarkan dari keluarga dan di asuh oleh keluarga.
Bimbingan keluarga yang dapat berdiri tegak sebagai seorang manusia yang
mandiri. Dan di dalam keluarga terdapat orang tua dan anak. Di dalam keluarga
orang tua harus menyikapi diri dengan baik terhadap anak. Anak merupakan
anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada para orang tua untuk menjaga dan
merawatnya.
Sikap
orang tua terhadap anak yang baik akan mampu menelurkan sikap yang baik pula
pada diri seorang anak. Karena anak akan mencontoh segala bentuk perilaku dan
sikap orang tuanya. Maka dari itu sebagai orang tua yang baik sikap yang
ditunjukan pada anak harus bersikap yang baik. Walaupun di kantor terdapat
masalah ketika di rumah tempat yang bersandar beristirahat sebagai orang tua
yang baik sikap kita kepada anak harus lebih baik agar sikap anak akan baik
pula kepada orang-orang di sekitarnya.
Alangkah
baiknya ketika membesarkan anak harus lebih menjaga kesebaran ekstra. Karena
tidak timbul hal hal yang diinginkan terhadap sikap orang tua terhadap anak.
Sikap orang tua menentukan sikap anak terhadap orang tua nya. Karena nya penting menjaga sikap di dalam
keluarga terlebih lagi sikap orang tua terhadap anak-nya.
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
1.
Keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit
sosial- ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari
semua institusi, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih
orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan
perkawinan, dan adopsi .
2. Menurut Allport, sikap merupakan
kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang,
bersama dengan pengalaman invidual masing-masing, mengarahkan dan menentukan
respons terhadap berbagai objek dan situasi.
B.
Saran
1.
Sikap orang tua
terhadap anak yang baik akan mampu menelurkan sikap yang baik pula pada diri
seorang anak.
2.
Alangkah baiknya
ketika membesarkan anak harus lebih menjaga kesebaran ekstra. Karena tidak
timbul hal hal yang diinginkan terhadap sikap orang tua terhadap anak
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono,
W. Sarlito. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta:
Salemba Humanika.
Puspitawati, Herien.
2013. Konsep Teori dan Keluarga. Dalam Jurnal Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor : PT IPB Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan. Atau di kosongkan bila anda tidak ingin menampilkan pesan komentar.