Selasa, 10 Mei 2016

psi. sosial



TUGAS PSIKOLOGI SOSIAL II
KELUARGA
(Sikap Keluarga Yang Baik )



                                                     Disusun oleh :
R.Tubagus Rifki P.


Program Studi Psikologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM ’45 BEKASI
Tahun 2016





Kata Pengantar

  Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Sikap Orang Tua Terhadap Anak di Dalam Keluarga.

    Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
   
    Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
   
    Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang beryukur dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   
                                                                                      Bekasi,  Maret 2016
   
                                                                                                  Penyusun







BAB 1 LATAR BELAKANG
Keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial- ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi  (UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10; Khairuddin 1985; Landis 1989; Day et al. 1995; Gelles 1995; Ember dan Ember 1996; Vosler 1996). Menurut U.S. Bureau of the Census Tahun 2000 keluarga terdiri atas orang- orang  yang hidup dalam satu rumahtangga (Newman dan Grauerholz 2002; Rosen (Skolnick dan  Skolnick 1997).  Keluarga merupakan keharusan yang diwajibkan oleh Agama, salah satunya tertera pada Kitab Suci Al Qur’an:

1.      Firman Allah dalam Surat At-Tahrim Ayat 6:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat - malaikat yang kasar, yang keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
2.      Firman Allah dalam Surat Al-Furqon : Ayat 74“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Keluarga juga seperti diamahkan oleh Undang - Undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga:
Bab II: Bagian Ketiga Pasal 4 Ayat (2), bahwa Pembangunan keluarga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tenteram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
Menurut Mattessich dan Hill (Zeitlin 1995), keluarga merupakan suatu kelompok yang berhubungan kekerabatan, tempat tinggal, atau hubungan emosional yang sangat dekat yang
memperlihatkan empat hal (yaitu interdepensi intim, memelihara batas-batas yang terseleksi,
mampu untuk beradaptasi dengan perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu, dan
melakukan tugas-tugas keluarga). Definisi lain menurut Settels (Sussman dan Steinmetz 1987),  keluarga juga diartikan sebagai suatu abstraksi dari ideologi yang memiliki citra romantis, suatu proses, sebagai satuan perlakukan intervensi, sebagai suatu jaringan dan tujuan/peristirahatan akhir. Lebih jauh, Frederick Engels dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property, and the State, yang mewakili pandangan radikal menjabarkan keluarga mempunyai hubungan antara struktur sosial-ekonomi masyarakat dengan bentuk dan isi dari keluarga yang didasarkan pada sistem patriarkhi (Ihromi 1999). Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan dan minum, dan sebagainya. Adapun tujuan membentuk keluarga adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anggota keluarganya. Keluarga yang sejahtera diartikan sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antar anggota keluarga, dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya (Landis 1989; BKKBN 1992). Burgest dan Locke (1960) mengemukakan 4 (empat) ciri keluarga yaitu (a) Keluarga adalah susunan orang - orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan (pertalian antar suami dan istri), darah (hubungan antara orang tua dan anak) atau adopsi; (b) Anggota- anggota keluarga
ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga. Tempat kos dan rumah penginapan bisa saja menjadi rumah tangga, tetapi tidak akan dapat menjadi keluarga, karena anggota - anggotanya tidak dihubungkan oleh darah, perkawinan atau  adopsi, (c) Keluarga merupakan kesatuan dari orang -orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan - peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, anak laki - laki  dan perempuan, saudara laki-laki dan saudara perempuan; Peranan-peranan tersebut diperkuat oleh kekuatan tradisi dan sebagian lagi emosional yang menghasilkan pengalaman; dan (d) Keluarga adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama yang diperoleh dari kebudayaan umum. Stephens mendefiniskan keluarga sebagai suatu susunan sosial yang didasarkan pada kontrak perkawinan termasuk dengan pengenalan hak-
hak dan tugas orangtua; tempat tinggal suami, istri dan anak-anak; dan kewajiban ekonomi yang bersifat Reciprocal antara suami dan istri (Eshelman 1991). Setiap keluarga mempunyai tujuan yang baik dan mulia misalnya untuk mewujudkan keluarga yang “Sakinah,Mawwadah, Warrohmah” (untuk orang Muslim). Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah :

1.Sakinah adalah ketenangan, kehebatan (percaya diri) dan kedamaian.
2.Mawaddaha dalah kelembutan tindakan, kelembutan hati, kecerahan wajah, tawadhuk, kejernihan pikiran, kasih saying, empati, kesenangan, dan kemesraan.
3.Rahmah adalah kerelaan berkorban, keikhlasan member, memelihara, kesediaan saling memahami, saling mengerti, kemauan untuk saling menjaga perasaan, sabar, jauh dari kemarahan, jauh dari keras hati dan keras kepala, jauh dari kekerasan fisik dan kekerasan mental.

BAB II DASAR TEORI SIKAP

Sikap merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga ada yang menganggap bahwa psikologi sosial yang mempelajari sikap (Thomas dan Zaniecki, 1918, Watson, 1930, dalam Voughn dan Hoog, 2002). Sikap berasal dari kata latin “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan atau dapat dianalogikan dengan keadaan gladiator dalam arena laga yang siap menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Secara harfiah, sikap dipandang sebagai kesiapan raga yang dapat diamati. Lepas  dari makna harfiah semula, pada tahun 1935, seorang psikolog sosial bernama W.Allport dalam buku Handbook of Social Pyschology membuat batasan/definis sebagai berikut:

.....a mental and neural state of readiness, organized through experience, exerting a directive or dynamic influence upon the indvidual’s response to all object and situation with which it is related. (G.W. Allport, 1935:810)....
[kesiapan mental dan saraf, diatur melalui pengalaman, menggunakan pengaruh petunjuk atau dinamis atau respons individual terhadap semua objek dan situasi yang terkait].

Menurut Allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman invidual masing-masing, mengarahkan dan menentukan respons terhadap berbagai objek dan situasi.

BAB III PEMBAHASAN

Keluarga merupakan tempat tinggal bagi seseorang yang memiliki kedekatan emosi di dalam rumah. Sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan susunan penting di dalam hidup kita. Kita dibesarkan dari keluarga dan di asuh oleh keluarga. Bimbingan keluarga yang dapat berdiri tegak sebagai seorang manusia yang mandiri. Dan di dalam keluarga terdapat orang tua dan anak. Di dalam keluarga orang tua harus menyikapi diri dengan baik terhadap anak. Anak merupakan anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada para orang tua untuk menjaga dan merawatnya.
Sikap orang tua terhadap anak yang baik akan mampu menelurkan sikap yang baik pula pada diri seorang anak. Karena anak akan mencontoh segala bentuk perilaku dan sikap orang tuanya. Maka dari itu sebagai orang tua yang baik sikap yang ditunjukan pada anak harus bersikap yang baik. Walaupun di kantor terdapat masalah ketika di rumah tempat yang bersandar beristirahat sebagai orang tua yang baik sikap kita kepada anak harus lebih baik agar sikap anak akan baik pula kepada orang-orang di sekitarnya.
Alangkah baiknya ketika membesarkan anak harus lebih menjaga kesebaran ekstra. Karena tidak timbul hal hal yang diinginkan terhadap sikap orang tua terhadap anak. Sikap orang tua menentukan sikap anak terhadap orang tua nya.  Karena nya penting menjaga sikap di dalam keluarga terlebih lagi sikap orang tua terhadap anak-nya.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
1.      Keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial- ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi .
2.      Menurut Allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman invidual masing-masing, mengarahkan dan menentukan respons terhadap berbagai objek dan situasi.

B.     Saran
1.      Sikap orang tua terhadap anak yang baik akan mampu menelurkan sikap yang baik pula pada diri seorang anak.
2.      Alangkah baiknya ketika membesarkan anak harus lebih menjaga kesebaran ekstra. Karena tidak timbul hal hal yang diinginkan terhadap sikap orang tua terhadap anak

DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, W. Sarlito. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Puspitawati, Herien. 2013. Konsep Teori dan Keluarga.  Dalam Jurnal Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor : PT IPB Press.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan. Atau di kosongkan bila anda tidak ingin menampilkan pesan komentar.