Selasa, 10 Mei 2016

sosiologi



TUGAS SOSIOLOGI
PROSTITUSI



                                                     Disusun oleh :
R.Tubagus Rifki P. (41183507140019)
Khusnul Hotimah(411835071400)
Ary Ardi Fajar(411835071200)
Abdurahman Wahid(411835071400)


Program Studi Psikologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM ’45 BEKASI
Tahun 2016


Kata Pengantar

  Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Prostitusi.

    Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
   
    Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
   
    Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang beryukur dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   
                                                                                      Bekasi,  Maret 2016
   
                                                                                                  Penyusun








BAB I LATAR BELAKANG

Kajian-kajian tentang pelacuran di Indonesia,seperti halnya penelitian gender dan
perempuan pada umumnya, lebih terfokus pada masa abad ke-20. Kajian-kajian tersebut
memfokus pada konteks lokal yang spesifik dan kurang melakukan perbandingan secara
lebih luas. Tulisan ini mencoba memberikan dasar historis dan komparatif yang lebih mendalam untuk mendiskusikan pelacuran di Indonesia dengan menempatkannya dalam kerangka perdagangan global di Asia Tenggara antara abad ke-17 dan 18. Pertumbuhan pusat-pusat perkotaan yang makmur berarti pula meningkatnya keluarga-keluarga kaya tempat budakbudak domestik—sebagian besar perempuan—dipekerjakan. Banyaknya perempuan yang tergantung secara ekonomi diperlukan untuk mempertahankan status keluarga.
Namun, mempertahankan mereka seringkali mengganggu sumber penghasilan utama keluarga.Oleh karena itu, adalah lazim apabila para pembantu dan budak terlibat dalam usaha dagang kecil-kecilan, termasuk menjajakan seks. Keuntungan dari kegiatan ini dapat digunakan untuk mendukung kehidupan mereka.
Sejalan dengan meluasnya perdagangan internasional, populasi laki-laki asing yang
lajang—terutama orang Eropa dan Cina—juga meningkat. Di kota-kota seperti Batavia,
mereka merupakan sekumpulan pelanggan yang bersedia membayar untuk aktivitas seksual.
Pada saat yang sama, peningkatan budak perempuan yang dibebaskan mengakibatkan
pertumbuhan populasi perempuan miskin yang tidak memiliki keterampilan dan jaringan
kekerabatan secara signifikan. Akibatnya, kita melihat meningkatnya ‘feminisasi’ kemiskinan
di perkotaan di seluruh Asia Tenggara. Bagi kelompok perempuan ini, pelacuran seringkali
hanyalah sarana memperoleh penghasilan.
Penelitian akhir-akhir ini tentang gender dan seksualitas hampir selalu melihat
‘perubahan’ sebagai sebuah fenomena modern. Tulisan ini berpendapat bahwa asal mula
pelacuran di Indonesia dapat dilacak ke masa sebelum abad ke-19, pada masa ketika
urbanisasi, perbudakan, kehadiran orang-orang asing, dan pertumbuhan komersialisasi
mentransformasikan masyarakat-masyarakat lokal. Sampai sekarang, perempuan miskin dan
tidak terdidik masih sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai satu-satunya
cara untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi mereka.

Sebuah Sejarah Sosial oleh Verne dan Bonnie Bullough pada tahun 1987 adalah indikasi dari minat yang tumbuh di topik yang memiliki sebelumnya mendapat perhatian akademis sedikit. Semakin sadar akan pentingnya perspektif gender dan dirangsang oleh debat publik mengenai basis ekonomi dan sosial prostitusi, spesialis mengerjakan Indonesia juga mulai menyelidiki subje kdari dikomersialisasikan seks. Selama lima belas tahun terakhir sejarawan dan lain-lain telah ditelusuri ekspansi di perdagangan seks untuk berbagai faktor: penerimaan pergundikan di lingkaran istana, terutama pada
Jawa; eksposur yang lebih besar untuk nilai-nilai Barat; Sebuah pelebaran ketidakseimbangan dalam ekonomi pedesaan-perkotaan pengembangan, dan di atas semua, peningkatan kemiskinan. Terlepas dari argumen yang disajikan, Namun, penelitian ini terutama berkaitan
dengan perkembangan sejak pertengahan kesembilan belas century.2 Tulisan ini mencoba untuk memberikan dasar sejarah lebih dalam untuk diskusi dengan fokus pada periode modern awal (ca.1500-1800). Hal ini bertujuan untuk menempatkan pertumbuhan 'Prostitusi' dalam kerangka yang menunjukkan bagaimana komersialisasi bursa seksual di kepulauan Melayu-Indonesia itu berhubungan erat dengan pertumbuhan urban pusat, terutama mereka yang di bawah kontrol Eropa. Karena peningkatan perdagangan global, itu adalah di kota-kota dan kota-kota yang kami menemukan elite status berorientasi, permintaan berkembang untuk domestik budak, peningkatan laki-laki asing, dan feminisasi kemiskinan. data komparatif menunjukkan prostitusi yang mungkin pro tertua di dunia




BAB II LANDASAN TEORI


Studi terbaru prostitusi di Indonesia
berpendapat bahwa perdagangan seks yang modern akhirnya bisa ditelusuri ke 'sistem feodal' orang Jawa karena pasokan perempuan untuk keraton itu Bagian dianggap upeti.
·         (Ito 1984: 26; Andaya
2001: 55) “). Di Aceh istana raja juga termasuk sekitar tiga ribu wanita perempuan yang bertindak sebagai penjaga, menunggu di Sultan dan keluarganya, dan mengerjakan tugas-tugas yang diperlukan seperti gathering kayu bakar dan air membawa, dan sama jika pendirian yang lebih kecil dapat dilacak di seluruh nusantara”.
·         (Andaya 2001: 56). “Tidak perlu di sini untuk mengulangi alasan budaya di balik bentuk pria-wanita
hubungan, karena diketahui bahwa tampilan banyak wanita adalah komponen penting dalam penegasan legitimasi kerajaan, sebuah simbol publik kejantanan penguasa dan demonstrasi jaringan kekerabatan nya. Hal ini mungkin berharga menyebutkan, bagaimanapun, bahwa jenis display bukan hanya milik laki-laki, tetapi merupakan aspek integral dari kekuasaan pada umumnya. Para ratu Aceh dan Patani, misalnya, juga dipertahankan pendirian perempuan besar. Dengan kata lain, sebuah Kehadiran perempuan-berat adalah komponen penting dari daya”.
·         (Andaya 1993: 129). “Untuk perempuan yang terlibat, penerimaan menjadi kerajaan atau rumah tangga yang mulia bisa membawa manfaat yang cukup baik dirinya dan keluarganya, tidak peduli seberapa rendah kelahiran mereka. Sebuah contoh dramatis dari
abad ketujuh belas adalah kasus Bugis sebuah budak perempuan yang naik menjadi kepala queen Jambi”.




BAB III PEMBAHASAN
Prostitusi telah memantapkan dirinya sebagai topik yang sah untuk penelitian sejarah hanya dalam terakhir dua puluh tahun. Ulama Asia Tenggara telah melihat potensi di sini untuk melanjutkan pemahaman tentang kawasan sosial sejarah, terutama dalam hal kompleks
interaksi antara jenis kelamin, ras dan kelas. Meskipun studi rinci hanya telah dilakukan sehubungan dengan kesembilan belas dan kedua puluh, ada bahan untuk mengembangkan
7 lebih kuat dan lebih komparatif sejarah mendasarkan. Ini merupakan tugas penting di pramodern Asia Tenggara, di mana kita harus mulai berpikir lebih kritis tentang pernyataan mengenai 'Status yang tinggi' dari wanita, lama disebut-sebut sebagai salah satu
fitur khas di wilayah ini (Reid 1990: 2-3).
Dalam hal lintas-budaya, adalah mungkin untuk melihat prostitusi sebagai salah satu hasil dari satu set kompleks perkembangan ekonomi dan sosial yang erat terjebak dengan dominasi Eropa tumbuh dari perdagangan internasional. Dalam dunia barat, dan di beberapa budaya Asia, penjualan komersial seks memiliki akar yang sangat tua; tapi di Afrika, Amerika dan di Asia Tenggara itu tampaknya terkait dengan spektrum Perubahan-peningkatan kehadiran asing, koin mata uang, munculnya kota-kota-yang semua membantu mengubah masyarakat lokal. Di penelitian modern tentang prostitusi ada debat yang sehat tentang apakah wanita yang menjual seks adalah korban, atau membuat pilihan rasional, tetapi dalam pra Indonesia modern setiap diskusi tentang masalah ini diperumit oleh sejauh mana perbudakan perempuan dan ambisi tertindas. Masih-hari, misalnya, besar harapan banyak pelacur di Jakarta adalah menjadi seorang ekspatriat ini 'istri kontrak' (yaitu untuk periode kontraknya) (Murray 1991: 116-118). Tapi meskipun prostitusi mungkin memiliki kompleks
menyebabkan, di Indonesia seperti di tempat lain kita menghadapi muram dan tak terbantahkan fakta bahwa perempuan miskin dan tidak berpendidikan terlalu sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai sarana mereka hanya ekonomi bertahan hidup.




BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
1.      Kajian-kajian tentang pelacuran di Indonesia,seperti halnya penelitian gender dan perempuan pada umumnya, lebih terfokus pada masa abad ke-20.\
2.      Perempuan miskin dan
tidak terdidik masih sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi mereka.
3.      Karena peningkatan perdagangan global, itu adalah di kota-kota dan kota-kota yang kami menemukan elite status berorientasi, permintaan berkembang untuk domestik budak, peningkatan laki-laki asing, dan feminisasi kemiskinan. data komparatif menunjukkan prostitusi yang mungkin pro tertua di dunia.


B.     SARAN
1.      Point pertama
2.      Point kedua
3.      Point ketiga




























DAFTAR PUSTAKA

ANDAYA, BARBARA WATSON. 2001. Historical Perspectives on Prostitution in Early
Modern Southeast Asia.
Dalam Jurnal Antropologi Indonesia. Vol.66. Hal. 58-68.

sosiologi



TUGAS SOSIOLOGI
PROSTITUSI



                                                     Disusun oleh :
R.Tubagus Rifki P. (41183507140019)
Khusnul Hotimah(411835071400)
Ary Ardi Fajar(411835071200)
Abdurahman Wahid(411835071400)


Program Studi Psikologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM ’45 BEKASI
Tahun 2016


Kata Pengantar

  Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Prostitusi.

    Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
   
    Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
   
    Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang beryukur dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   
                                                                                      Bekasi,  Maret 2016
   
                                                                                                  Penyusun








BAB I LATAR BELAKANG

Kajian-kajian tentang pelacuran di Indonesia,seperti halnya penelitian gender dan
perempuan pada umumnya, lebih terfokus pada masa abad ke-20. Kajian-kajian tersebut
memfokus pada konteks lokal yang spesifik dan kurang melakukan perbandingan secara
lebih luas. Tulisan ini mencoba memberikan dasar historis dan komparatif yang lebih mendalam untuk mendiskusikan pelacuran di Indonesia dengan menempatkannya dalam kerangka perdagangan global di Asia Tenggara antara abad ke-17 dan 18. Pertumbuhan pusat-pusat perkotaan yang makmur berarti pula meningkatnya keluarga-keluarga kaya tempat budakbudak domestik—sebagian besar perempuan—dipekerjakan. Banyaknya perempuan yang tergantung secara ekonomi diperlukan untuk mempertahankan status keluarga.
Namun, mempertahankan mereka seringkali mengganggu sumber penghasilan utama keluarga.Oleh karena itu, adalah lazim apabila para pembantu dan budak terlibat dalam usaha dagang kecil-kecilan, termasuk menjajakan seks. Keuntungan dari kegiatan ini dapat digunakan untuk mendukung kehidupan mereka.
Sejalan dengan meluasnya perdagangan internasional, populasi laki-laki asing yang
lajang—terutama orang Eropa dan Cina—juga meningkat. Di kota-kota seperti Batavia,
mereka merupakan sekumpulan pelanggan yang bersedia membayar untuk aktivitas seksual.
Pada saat yang sama, peningkatan budak perempuan yang dibebaskan mengakibatkan
pertumbuhan populasi perempuan miskin yang tidak memiliki keterampilan dan jaringan
kekerabatan secara signifikan. Akibatnya, kita melihat meningkatnya ‘feminisasi’ kemiskinan
di perkotaan di seluruh Asia Tenggara. Bagi kelompok perempuan ini, pelacuran seringkali
hanyalah sarana memperoleh penghasilan.
Penelitian akhir-akhir ini tentang gender dan seksualitas hampir selalu melihat
‘perubahan’ sebagai sebuah fenomena modern. Tulisan ini berpendapat bahwa asal mula
pelacuran di Indonesia dapat dilacak ke masa sebelum abad ke-19, pada masa ketika
urbanisasi, perbudakan, kehadiran orang-orang asing, dan pertumbuhan komersialisasi
mentransformasikan masyarakat-masyarakat lokal. Sampai sekarang, perempuan miskin dan
tidak terdidik masih sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai satu-satunya
cara untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi mereka.

Sebuah Sejarah Sosial oleh Verne dan Bonnie Bullough pada tahun 1987 adalah indikasi dari minat yang tumbuh di topik yang memiliki sebelumnya mendapat perhatian akademis sedikit. Semakin sadar akan pentingnya perspektif gender dan dirangsang oleh debat publik mengenai basis ekonomi dan sosial prostitusi, spesialis mengerjakan Indonesia juga mulai menyelidiki subje kdari dikomersialisasikan seks. Selama lima belas tahun terakhir sejarawan dan lain-lain telah ditelusuri ekspansi di perdagangan seks untuk berbagai faktor: penerimaan pergundikan di lingkaran istana, terutama pada
Jawa; eksposur yang lebih besar untuk nilai-nilai Barat; Sebuah pelebaran ketidakseimbangan dalam ekonomi pedesaan-perkotaan pengembangan, dan di atas semua, peningkatan kemiskinan. Terlepas dari argumen yang disajikan, Namun, penelitian ini terutama berkaitan
dengan perkembangan sejak pertengahan kesembilan belas century.2 Tulisan ini mencoba untuk memberikan dasar sejarah lebih dalam untuk diskusi dengan fokus pada periode modern awal (ca.1500-1800). Hal ini bertujuan untuk menempatkan pertumbuhan 'Prostitusi' dalam kerangka yang menunjukkan bagaimana komersialisasi bursa seksual di kepulauan Melayu-Indonesia itu berhubungan erat dengan pertumbuhan urban pusat, terutama mereka yang di bawah kontrol Eropa. Karena peningkatan perdagangan global, itu adalah di kota-kota dan kota-kota yang kami menemukan elite status berorientasi, permintaan berkembang untuk domestik budak, peningkatan laki-laki asing, dan feminisasi kemiskinan. data komparatif menunjukkan prostitusi yang mungkin pro tertua di dunia




BAB II LANDASAN TEORI


Studi terbaru prostitusi di Indonesia
berpendapat bahwa perdagangan seks yang modern akhirnya bisa ditelusuri ke 'sistem feodal' orang Jawa karena pasokan perempuan untuk keraton itu Bagian dianggap upeti.
·         (Ito 1984: 26; Andaya
2001: 55) “). Di Aceh istana raja juga termasuk sekitar tiga ribu wanita perempuan yang bertindak sebagai penjaga, menunggu di Sultan dan keluarganya, dan mengerjakan tugas-tugas yang diperlukan seperti gathering kayu bakar dan air membawa, dan sama jika pendirian yang lebih kecil dapat dilacak di seluruh nusantara”.
·         (Andaya 2001: 56). “Tidak perlu di sini untuk mengulangi alasan budaya di balik bentuk pria-wanita
hubungan, karena diketahui bahwa tampilan banyak wanita adalah komponen penting dalam penegasan legitimasi kerajaan, sebuah simbol publik kejantanan penguasa dan demonstrasi jaringan kekerabatan nya. Hal ini mungkin berharga menyebutkan, bagaimanapun, bahwa jenis display bukan hanya milik laki-laki, tetapi merupakan aspek integral dari kekuasaan pada umumnya. Para ratu Aceh dan Patani, misalnya, juga dipertahankan pendirian perempuan besar. Dengan kata lain, sebuah Kehadiran perempuan-berat adalah komponen penting dari daya”.
·         (Andaya 1993: 129). “Untuk perempuan yang terlibat, penerimaan menjadi kerajaan atau rumah tangga yang mulia bisa membawa manfaat yang cukup baik dirinya dan keluarganya, tidak peduli seberapa rendah kelahiran mereka. Sebuah contoh dramatis dari
abad ketujuh belas adalah kasus Bugis sebuah budak perempuan yang naik menjadi kepala queen Jambi”.




BAB III PEMBAHASAN
Prostitusi telah memantapkan dirinya sebagai topik yang sah untuk penelitian sejarah hanya dalam terakhir dua puluh tahun. Ulama Asia Tenggara telah melihat potensi di sini untuk melanjutkan pemahaman tentang kawasan sosial sejarah, terutama dalam hal kompleks
interaksi antara jenis kelamin, ras dan kelas. Meskipun studi rinci hanya telah dilakukan sehubungan dengan kesembilan belas dan kedua puluh, ada bahan untuk mengembangkan
7 lebih kuat dan lebih komparatif sejarah mendasarkan. Ini merupakan tugas penting di pramodern Asia Tenggara, di mana kita harus mulai berpikir lebih kritis tentang pernyataan mengenai 'Status yang tinggi' dari wanita, lama disebut-sebut sebagai salah satu
fitur khas di wilayah ini (Reid 1990: 2-3).
Dalam hal lintas-budaya, adalah mungkin untuk melihat prostitusi sebagai salah satu hasil dari satu set kompleks perkembangan ekonomi dan sosial yang erat terjebak dengan dominasi Eropa tumbuh dari perdagangan internasional. Dalam dunia barat, dan di beberapa budaya Asia, penjualan komersial seks memiliki akar yang sangat tua; tapi di Afrika, Amerika dan di Asia Tenggara itu tampaknya terkait dengan spektrum Perubahan-peningkatan kehadiran asing, koin mata uang, munculnya kota-kota-yang semua membantu mengubah masyarakat lokal. Di penelitian modern tentang prostitusi ada debat yang sehat tentang apakah wanita yang menjual seks adalah korban, atau membuat pilihan rasional, tetapi dalam pra Indonesia modern setiap diskusi tentang masalah ini diperumit oleh sejauh mana perbudakan perempuan dan ambisi tertindas. Masih-hari, misalnya, besar harapan banyak pelacur di Jakarta adalah menjadi seorang ekspatriat ini 'istri kontrak' (yaitu untuk periode kontraknya) (Murray 1991: 116-118). Tapi meskipun prostitusi mungkin memiliki kompleks
menyebabkan, di Indonesia seperti di tempat lain kita menghadapi muram dan tak terbantahkan fakta bahwa perempuan miskin dan tidak berpendidikan terlalu sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai sarana mereka hanya ekonomi bertahan hidup.




BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
1.      Kajian-kajian tentang pelacuran di Indonesia,seperti halnya penelitian gender dan perempuan pada umumnya, lebih terfokus pada masa abad ke-20.\
2.      Perempuan miskin dan
tidak terdidik masih sering melihat partisipasi dalam perdagangan seks sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi mereka.
3.      Karena peningkatan perdagangan global, itu adalah di kota-kota dan kota-kota yang kami menemukan elite status berorientasi, permintaan berkembang untuk domestik budak, peningkatan laki-laki asing, dan feminisasi kemiskinan. data komparatif menunjukkan prostitusi yang mungkin pro tertua di dunia.


B.     SARAN
1.      Point pertama
2.      Point kedua
3.      Point ketiga




























DAFTAR PUSTAKA

ANDAYA, BARBARA WATSON. 2001. Historical Perspectives on Prostitution in Early
Modern Southeast Asia.
Dalam Jurnal Antropologi Indonesia. Vol.66. Hal. 58-68.